Kamis, 13 Oktober 2016

Siklus di Bisnis MLM


Sudah merupakan sebuah kenyataan bahwa kegiatan bisnis di MLM selalu berhubungan dengan omzet. Dengan meningkatnya omzet meningkat pula pendapatan/bonus seorang distributor MLM. Peningkatan bonus inilah yang ingin dicapai dan akan memberikan motivasi/semangat kepada pelaku bisnis tersebut (distributor). Dengan semangat tersebut tentunya akan lebih meningkatkan aktivitas bisnis.
MLM (Multilevel Marketing) merupakan distribusi barang/produk secara berjenjang atau bertahap. Untuk pendistribusian secara bertahap ini perlu adanya seorang distributor. Dengan sistem pembagian pendapatan/bonus yang dibuat oleh sebuah perusahaan MLM atau yang lebih dikenal dengan Marketing Plan maka seseorang akan memutuskan untuk melakukan kegiatan bisnis tersebut dengan bergabung menjadi seorang distributor. Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana meningkatkan omzet?

Peningkatan omzet di sebuah MLM selalu di mulai dari distributor atau anggotanya, baik itu level terbawah, menengah ataupun top level. Cara yang bisa dilakukan adalah:
1. Sebagai distributor sekaligus pengusaha diwajibkan untuk mengenal produk yang akan dipasarkannya, salah satunya adalah dengan swa konsumsi. Diharapkan dari swa konsumsi ini seorang distributor dapat menceritakan ttg khasiat produk tsb sehingga akan timbul rasa percaya.
2. Alternatif kedua sebagai peningkatan omzet adalah melakukan penjualan. Dengan bercerita pengalaman mengkonsumsi produk merupakan salah cara dalam memasarkan.
3. Karena MLM tidak harus dengan berjualan yg identik dengan seorang sales yang harus door to door, maka seorang distributor mulai harus berpikir ala seorang manajer dalam berbisnis yaitu mulai membuka cabang baru. Perkenalkan bisnis ini ke rekan-rekan yang memiliki komitmen untuk berbisnis, ajarkan hal sama dalam mengelola usaha tersebut. Kegiatan ini merupakan Business Opportunity dan Duplikasi.
Dari 3 kegiatan tersebut tentunya omzet akan meningkat seiring dengan penambahan network dan hasilnya pun akan mendongkrak pendapatan/bonus sehingga semangat para distributor akan terjaga untuk melanjutkan kegiatan bisnis tersebut. Dan ini adalah sebuah siklus “Kegiatan Bisnis -> Omzet -> Semangat -> Kegiatan Bisnis”.
Pengembangan Jaringan Dengan Filsafat Ayam
Banyak di antara pelaku network marketing merasa dirinya gagal dalam menjalankan bisnis network marketing. Padahal yang benar adalah dia belum berhasil karena belum bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Di antara kerja cerdas adalah dengan bekerja meniru cara kerja induk ayam.
Apa yang dilakukan induk ayam?
1. Pacaran : Pacaran adalah ibarat dari prospecting mencari kenalan di manapun dan kapanpun. Di halte bis, di terminal, di dalam lift, bis, kereta, kapal laut, pesawat, dll. Gunakan strategi kenalan dengan menggunakan 'ice-breaking' menanyakan jam, tujuan, keluarga, cuaca, topik yang sedang trend saat ini, dll. Sebaiknya membekali diri dengan membaca buku Dale Carnegie "How to get friends and to influence people" yang sudah diterjemahkan menjadi bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain.
2. Bertelur : Bertelur adalah ibarat dari sponsoring mendapatkan anggota baru.

3. Mengeram : Mengeram adalah ibarat dari melakukan home meeting dan home sharing di rumah anggota baru untuk mengajari yang bersangkutan bagaimana caranya membuat dream book, daftar nama, mengundang, presentasi, follow-up, mengenal produk, mengguanakan alat berupa buku, kaset, dan pertemuan.
4. Mengais mencari makanan bersama anak-anaknya : Memberikan contoh kepada mitra muda (down-line) bagaimana caranya sponsoring dan membina, agar terjadi duplikasi.
5. Melindungi anak-anaknya dari musuh dengan memasukkan mereka dalam dekapannya atau langsung menyerang musuh. Melindungi mitramuda baru dari virus negatif dengan memberikan jawaban yang tepat, bahkan dengan mempersiapkan imunisasi sebelum virus negatif menyerang. Melindungi mereka dari serbuan MLM lain yang akan merontokkan jaringan.

Dalam hal ini saya termasuk orang yang tidak menyetujui polygami MLM. Menjalankan dua MLM bagaikan seseorang yang mendaki dua gunung dalam satu waktu yang bersamaan.

Peribahasa jangan simpan telur dalam satu keranjang berlaku bagi orang yang menekuni MLM tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bukan sebagai pelaku MLM lain. Banyak bukti yang menjalankan dua MLM sekaligus jaringannya menjadi rontok, akhirnya terjadi ingin untung jadi buntung.
Ingin dapat semua, malah hilang semua.


Selamat Mencoba! Semoga sukses selalu!!

Cerita Anak Sekolah, Karyawan dan Pengusaha

Cerita Anak Sekolah, Karyawan dan Pengusaha
Anak Sekolah      : Jumlah uang jajan ditentukan orang tua,
Karyawan            : Jumlah gaji ditentukan bos,
Pengusaha            :Profit diatur sendiri sesukanya.
Anak Sekolah      : Jam bangun diatur orang tua dan sekolah.
Karyawan            : Jam bangun diatur bos dan kantor,
Pengusaha            :Jam bangun atur sendiri.
Anak Sekolah      : Bolos sekolah itu dosa,
Karyawan            : Bolos kerja itu dosa,
Pengusaha            : Menjalankan bisnis atau nggak, urusan gue.
Anak Sekolah      : Tidak masuk sekolah harus minta ijin.
Karyawan            : Tidak masuk kerja harus minta ijin,
Pengusaha            : It’s my own business!
Anak Sekolah      : Kalau salah dihukum,
Karyawan            : Kalau salah dihukum,
Pengusaha            : Kalau salah, rugi duit, tapi nggak dimarahi.
Anak Sekolah      : Dimarahi orang tua dan guru,
Karyawan            : Dimarahi bos,
Pengusaha            : Siapa yang berani marahi saya???
Anak Sekolah      : Semangat ada kalau hampir jam pulang,
Karyawan            : Semangat ada kalau hampir jam pulang,
Pengusaha            : Jam pulang??? Terserah gue!
Anak Sekolah      : Libur diatur sekolah,
Karyawan            : Libur diatur kantor,
Pengusaha            : Libur atur sendiri.
Anak Sekolah      : Kalau nakal dimarahi guru,
Karyawan            : Kalau nakal dimarahi bos,
Pengusaha            : Kenakalan saya disebut “Kreatif” .
Anak Sekolah      : Takut pada guru dan orang tua,
Karyawan            : Takut pada bos,
Pengusaha            : Hanya takut pada hukum dan Tuhan.
Anak Sekolah      : Masuk sekolah demi nilai,
Karyawan            : Masuk kerja demi uang,
Pengusaha            : Bisnis adalah untuk melayani orang lain, dan jadi profit.
Anak Sekolah      : Seragam anda sama dengan teman sekolah,
Karyawan            : Seragam anda sama dengan teman sekantor,
Pengusaha            : Tidak kenal seragam.
Anak Sekolah      : Kalau sakit perlu surat dokter,
Karyawan            : Kalau sakit perlu surat dokter,
Pengusaha            : Sakit urusan gue.
Anak Sekolah      : Kalau bosan tidak boleh melarikan diri,
Karyawan            : Kalau bosan tidak boleh melarikan diri,
Pengusaha            : Bosan? Kabur yuk!
Anak Sekolah      : Paling takut dikeluarkan dari sekolah,
Karyawan            : Paling takut dikeluarkan dari kerja (PHK) ,
Pengusaha            : Nggak ada PHK. Bangkrut? Bangun lagi!
Anak Sekolah      : Tidak boleh shopping pada jam sekolah,
Karyawan            : Tidak boleh shopping pada jam kerja,
Pengusaha            : Shopping semau saya.
Anak Sekolah      : Sabtu masuk setengah hari, Minggu libur,
Karyawan            : Sabtu masuk setengah hari, Minggu libur,
Pengusaha            : Bisa masuk dan libur kapan saja.
Anak Sekolah      : Hari besar libur,
Karyawan            : Hari besar libur,
Pengusaha            : Lebih enak libur di hari kerja lho!
Anak Sekolah      : Hanya bisa makan pada jam istirahat,
Karyawan            : Hanya bisa makan pada jam istirahat,
Pengusaha            : Makan sesukanya dan sekenyangnya.
Anak Sekolah      : Diatur orang tua dan guru,
Karyawan            : Diatur bos,
Pengusaha            : Siapa yang mengatur saya???
Anak Sekolah      : Terikat sekolah,
Karyawan            : Terikat kantor,
Pengusaha            : Bebas!!!
Anak Sekolah      : Mobil milik orang tua,
Karyawan            : Mobil milik kantor,
Pengusaha            : Mobil milik sendiri.
Anak Sekolah      : Rumah numpang orang tua,
Karyawan            : Rumah adalah fasilitas dari kantor,
Pengusaha            : Rumah milik sendiri.
Anak Sekolah      : Merusakkan mobil, dimarahi orang tua,
Karyawan            : Merusakkan mobil, dimarahi bos,
Pengusaha            : Diperbaiki dong! Tanpa dimarahi.
Waktu masih kecil, harus menuruti orang tua dan guru. Sudah besar, apakah harus menurut bos???
Kapan jadi benar-benar dewasa???
Gaji dan uang jajan tidak bikin kaya!!!




Berpindah MLM, Apakah Salah?


Sering disebut, orang yang pindah-pindah MLM tidak akan bisa berhasil. Di lain pihak, kadang-kadang dirasakan prestasi kita rasanya sudah berat untuk dimajukan. Lalu harus bagaimana? Sebuah hal paling sederhana yang perlu dipahami adalah konsep antara "pindah MLM" dengan "pindah-pindah MLM" atau yang sering disebut "kutu loncat".
Memilih MLM ibarat memilih pasangan (pacar). Awalnya kita memilih-milih MLM, lalu bergabung, seperti kita mulai berpacaran. Selama berpacaran, ada kalanya kita suka tidak suka harus menyadari bahwa dia bukan untuk kita, sehingga berakibat putus dan harus mencari pacar baru.
Ada kemungkinan kita melihat pacar kita begitu baik dan cocok dengan kita sehingga kita menikahinya (analogi MLM: jadi leader besar yang tidak mungkin pindah lagi). Tidak pernah ada pacar yang mau diduakan (dimadu), sama halnya dengan MLM, di mana belum pernah ada distributor MLM yang berhasil (jadi top leader) yang mendua MLM. Walaupun demikian, sudah merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam berpacaran kita kadang juga harus putus dan berganti pacar baru.
Kutu Loncat : Adalah sebuah hal yang berbahaya kalau kita bergonta-ganti MLM, karena orang akan menjauhi kita. Hari ini bilang MLM A adalah yang terbaik, besok bilang MLM B yang terbaik, besoknya lagi bilang MLM C, dst. Terus mau merekrut kita ke berbagai MLM yang dia ikuti. Yang bangkrut? Downline-nya. Uangnya habis untuk bergabung tanpa hasil. Akhirnya, kalau dia bilang MLM Z adalah yang terbaik, orang sudah tidak percaya.
Sama halnya bila berganti-ganti pacar. Sekali ganti, orang masih bersimpati dan mendukung. Dua kali masih oke. Berkali-kali? Itu namanya playboy dan orang akan berpikir, "Paling-paling sebentar juga ganti lagi..."
Perlukah Berpindah?
Itu kembali pada diri masing-masing. Saya pribadi bergabung di beberapa MLM. MLM pertama terlalu berat, terjadi persaingan harga yang tidak sehat, dan akhirnya saya rugi karena terlanjur stok barang (sebuah kesalahan distributor MLM). Saya sangat tidak matang di sini, dan itu penyebab kegagalan saya.
MLM kedua saya hanya sekedar gabung, karena kebetulan mau pakai produknya. Modal saya kembali, karena sempat jual 1 kali. Setelah itu, karena tidak ada upline yang membantu, saya quit juga.
Di MLM ke-3, saya bertahan 2 tahun dan menjalani pendidikan yang mengubah hidup saya. Tapi tidak ada kemajuan berarti dalam sisi bonus dan peringkat, dan saya akhirnya frustrasi. Sehingga ujung-ujungnya saya berpindah di MLM ke-4 yang saya geluti sekarang.
Bukankah seorang pemenang tidak pernah menyerah??? Pepatah mengatakan: Bila anda menyerah, anda pasti kalah. Bila anda terus berjuang, ada kemungkinan anda menang. Lalu mengapa berpindah MLM? Saya teringat sebuah kata-kata Robert Kiyosaki di bukunya Retire Young Retire Rich. Seorang pemenang tahu kapan dia kalah, dan dia akan berusaha untuk menang di tempat lain. Orang yang kalah ngotot terus sehingga makin kalah. Ini yang terjadi di meja judi, sehingga banyak yang bangkrut, karena tidak terima dia rugi, dan ingin menebus kerugiannya, sehingga malah rugi lebih banyak.
Sebuah hal sederhana meyakinkan saya untuk pindah. Saya menghitung potensi penghasilan saya di tempat lama, berdasarkan data para top performers (jangan melihat data prestasi orang malasnya) di MLM lama. Ternyata tidak terlalu tinggi. Perlu waktu yang lama atau perjuangan ekstra berat. Saya tidak sanggup presentasi 16 jam per hari non-stop secara konsisten untuk berhasil. Saya tidak sanggup bila penghasilan saya tetap di bawah Rp.5 juta per bulan selama 1-2 tahun berikutnya, bila saya ingin beli rumah dan mobil. Sehingga saya ambil kesimpulan: kalau saya fight, hasilnya masih tetap tidak seberapa. Lebih baik quit.
Di MLM baru, saya pun tidak serta-merta bergabung. Saya cek dulu top dan average performers, potensi pendapatan mereka, business plan-nya, dsb, baru saya memutuskan untuk gabung. Hasilnya luar biasa. Dengan modal minimal, bulan pertama bonus saya hanya Rp.44 ribu (masih belajar lagi), dan melonjak jadi Rp.5 juta lebih di bulan kedua! (Bulan ketiga masih berjalan).
Pemenang bisa kalah di sebuah MLM, tetapi bila dia terus berjuang, dia bisa jadi pemenang di MLM (walaupun MLM yang lain).
Mulai Dari Nol?
Ini yang paling ditakuti semua orang, termasuk saya. Ternyata tidak demikian di MLM, dan ini adalah keindahan MLM. Ketika saya pindah, saya ajak downline dan mantan downline saya. Kriteria pemilihan downline yang diajak sifatnya kasuistis: apakah memilih yang aktif atau yang pasif? Saya pribadi memilih yang pasif dulu, karena saya mengerti perasaan frustrasi mereka, dan mengajak mereka berjuang lagi di sini, juga supaya tidak kehilangan muka di mata yang aktif (tidak kehilangan integritas).
Biarkan yang aktif jalan dulu di tempat lama, sambil memberi bonus pada saya di MLM lama (double-income). Tetapi bisa jadi kita memilih yang aktif dulu, karena 1 orang aktif nilainya berkali-kali lipat orang pasif. Kita bisa langsung tancap gas. Itu sebabnya saya bilang sifatnya kasuistis dan biarkan kebijaksanaan anda yang menentukan. Hanya anda yang tahu jawabannya.
Dengan saya memilih yang pasif dulu, saya membuktikan: saya besar bukan semata-mata karena downline aktif saya, tetapi karena kapasitas pribadi saya yang sudah meningkat (terbukti saya naik peringkat dengan bonus besar di bulan ke-2). Downline aktif bisa lebih respek ketika diajak pindah.
Kapan Berpindah?
Ini juga kasuistis. Tetapi ada beberapa panduan yang bisa saya berikan, dan jangan diikuti mentah-mentah.
  1. Pertama-tama, konsultasikan dulu pada upline sekarang, mengapa kok tidak maju-maju. Jangan bilang mau pindah, karena pasti tidak boleh. Tanyakan apa yang harus dilakukan agar bisa maju, selidiki dulu apa yang salah, dsb.
  2. Bila sudah dijalankan dengan baik selama 2 tahun atau lebih, bonus belum mencapai Rp.5 juta, belum naik peringkat ke tingkat prestisius, bisa mulai dipertimbangkan untuk pindah.
Waspada! : Ketika ada orang yang tahu kita ingin pindah, tentu saja dia akan menawarkan sebuah opportunity pada kita.
Yang perlu kita perhatikan :
1. Hati-hati pada MLM yang menjanjikan hasil besar dengan usaha minimal atau bahkan tanpa usaha.
2. Hati-hati terhadap money game. Lebih aman memilih MLM anggota APLI / terdaftar.
3. Hati-hati terhadap business plan yang memberi bonus besar di depan, tapi kecil di belakang (biasanya persentase-nya besar di downline level 1, tapi kecil di level-level berikut. Ingatlah: kita mendapat hasil terbesar justru dari kedalaman, bukan level 1.
4. Hati-hati terhadap iming-iming dan janji palsu yang tidak rasional.
5. Pilihlah yang business plan-nya lebih mudah untuk memperkecil tingkat drop out, support system lengkap dan matang, dan produk yang memang berkualitas.
6. Hati-hati terhadap tawaran tanpa tutup point, karena pendapatan leader MLM sebagian besar berasal dari tutup point downline, bukan hanya dari new distributor yang kedalamannya makin dalam dan akhirnya di luar jangkauan anda.
7. Bila memungkinkan, selidiki dulu kantor MLM yang menawarkan diri, yang terletak di luar negeri, bukan hanya yang di Indonesia. Ini untuk memastikan klaim-nya benar.

Jangan Berpindah bila :
1. Belum menjalankan sistemnya dengan benar secara konsistem selama minimal 6 bulan.
2. Alasan anda hanya karena upline sponsor tidak kompeten. Anda bisa cari upline di atasnya lagi.

Jangan terburu-buru memutuskan anda gagal. Berjuanglah dulu minimal 6 bulan, analisa hasilnya, baru putuskan.








Poligami MLM : Mengapa Tidak?


Sering kita mendengar pepatah yang mengatakan ”Jangan menyimpan semua telor dalam satu keranjang”. Saya rasa, banyak di antara kita yang setuju dengan pepatah tersebut. Nah, sekarang mari kita melihat bagaimana pepatah tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari dan juga di bisnis MLM kita.
Apabila kita melakukan investasi di Pasar Modal, walau kita tahu bahwa saham-saham yang bagus adalah saham-saham utama (saham blue chip), tidak disarankan untuk menginvestasikan semua uang ke hanya satu dari saham-saham blue-chip tersebut. Lebih baik jika investasi di saham disebar ke beberapa perusahaan (saham) karena hal ini akan mengurangi resiko dalam berinvestasi.
Di luar dunia saham, seandainya Anda hanya tergantung pada satu sumber penghasilan, katakanlah sebagai karyawan atau memiliki usaha sendiri, apabila terjadi kegoncangan pada perusahaan dimana Anda bekerja atau pada perusahaan Anda, maka ketakutan atau kekhawatiran akan melanda. Bisa-bisa, hal tersebut membuat pikiran menjadi tidak jernih yang berakibat prestasi kerja semakin menurun. Apabila Anda memiliki sumber penghasilan yang lain, maka hal ini tidak akan terjadi.
Saya telah berjumpa dengan banyak pemain MLM yang telah total memberikan waktunya hanya untuk bertekun di bisnis yang mereka jalankan. Dengan alasan harus fokus, mereka tidak menyadari bahwa ada ada kendaraan lain yang bagus juga untuk dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan. Apabila perusahaan yang mereka tekuni tersebut mengalami kemunduran, maka cerita di atas akan terulang, karena hanya mengandalkan satu sumber pendapatan.
Dari buku Parable of the Pipeline karangan Burke Hedges. Dikatakan bila kita memiliki lebih dari satu pipa maka akan lebih bagus, karena bila salah satu dari pipa kita menjadi kering, masih ada pipa yang lain yang akan tetap menghasilkan.
Saya telah berjumpa dengan beberapa orang pemain MLM yang menerapkan sistem di atas yaitu dengan aktif di beberapa perusahaan MLM dan mereke juga cukup sukses di MLM-MLM tersebut. Ada seseorang yang aktif di puluhan perusahaan MLM dan 6 diantaranya memberikannya residual income.
Apa kiat sukses untuk menjalankan beberapa MLM sekaligus??
Pertama-tama, produknya jangan sampai bertabrakan (overlap) dan jangan sampai terlibat dengan money game.
Tentunya jika berpoligami, income yang didapat tidak akan sefantastis apabila Anda focus ke salah satu MLM saja. Tetapi setidaknya akan membuat resiko semakin kecil. Selain itu, tetap harus ada MLM yang berperan sebagai “isteri pertama” atau pegangan utama.
Tentunya, artikel ini akan mengundang pro dan kontra. Yang perlu direnungkan adalah, bila Anda bisa sukses di dua tempat, tiga tempat dan bahkan banyak tempat, kenapa harus membatasi diri?
Seperti yang selalu diucapkan,” Jangan membatasi mimpi Anda”.

-----------------------------

Mentargetkan Impian


Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, dan hampir semua orang punya atau setidaknya pernah punya cita-cita tinggi tersebut. Apakah cita-cita yang Anda miliki masih tinggi? Sebagai networker, saya sangat bangga bahwa sebagian besar networker adalah orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi, tujuan hidup besar dan visi yang jauh kedepan. Hal itu membuat para networker selalu mempunyai semangat yang berkobar-kobar. “Bikin hidup lebih hidup” begitulah kira-kira.
Banyak kesaksian dari para networker sukses, yang menyatakan bahwa faktor penting dalam meraih suksesnya adalah mempunyai cita-cita. Perjuangan mereka disemangati oleh cita-citanya itu yang membuat mereka selalu bertahan sampai sukses.
Cita-cita sama artinya dengan tujuan, dan tujuan berkaitan erat dengan arah. Kemana arah Anda melangkah adalah lebih penting daripada seberapa cepat Anda melangkah. Jadi menentukan cita-cita adalah prioritas pertama sebelum Anda melangkah, jika tidak, maka semakin cepat melangkah, akan semakin jauh Anda salah arah.
Sudahkah Anda mempunyai tujuan jelas di bisnis Anda? Atau Anda hanya menjalankannya seadanya? Mungkin saat ini Anda merasa telah punya tujuan, tetapi sudahkah Anda menuliskannya dengan jelas dan pasti? Karena cita-cita yang masih dalam angan-angan adalah impian dan itu baru berubah jadi tujuan ketika Anda menuliskannya.
Jangan sia-siakan perjuangan Anda, tentukan cita-cita sekarang juga dan pastikan sekuat tenaga untuk mencapainya.

--------------------------------

Berselisih Dengan Upline (Bukan Dengan Downline)


Seperti halnya di kantor yang selalu ada karyawan pengeluh, pamalas, tukang ngobrol, tukang telephone, suka bicara kasar, defensif, curang, sok tahu dan lain-lain, dalam membangun bisnis network-marketing juga pasti ada karakter distributor yang terkadang tidak sesuai yang diinginkan. Terkadang kita berfikir, bagaimana kita harus bersikap. Karena salah-salah, bisnis yang sudah dibangun sekian lama bisa rontok seketika.
Kalau Anda sebagai upline, sebaiknya Anda lebih bijaksana : lebih banyak mengalah, dalam batas tertentu mengikuti keinginan mereka [meski sebenarnya tidak sesuai dengan keinginnan Anda], mengiyakan keinginannya, atau mungkin berdiam diri dan angkat bicara pada waktu yang tepat.
Tetapi kemudian Anda berfikir, sampai kapan hal ini akan bertahan? Akankah Anda terus 'mengalah' selamanya? Dan apakah Anda akan bertahan dalam 'ketidakberdayaan' ini?
Robert Bacal, penulis "The Complete Idiot's Guide to Dealing with Difficult Employees" (2000) memberi saran sebagai berikut : Pertama-tama, tanyakan pada diri Anda apakah yang bermasalah itu Anda atau dia? Apakah 'kebiasaan'-nya hanya mengganggu Anda atau semua orang? Kalau kebiasannya tsb berdampak pada semua orang, itu artinya memang dia yang bermasalah. Temui dia, dan jangan diselesaikan di milis karena di milis akan banyak komentator yang tidak diundang. Yang sebelumnya tidak bermasalah pun bisa-bisa jadi 'ingin' bermasalah.
Daniel Robin, yang membuka situs www.abetterworkplace.com berpendapat : meski banyak orang yang terganggu dengan sikapnya, tidak bijaksana kalau Anda 'membawa rombongan' [untuk menghakimi]. Sebaiknya Anda pikirkan 'efek' duplikasi yang akan menimpa jaringan Anda. Semua distributor Anda akan menduplikasi diri Anda menenempuh jalan tersebut ketika 'berselisih' dengan Anda atau upline mereka. Sebaik apapun jaringan Anda, pasti akan pernah ada 'perselisihan' ini. Mungkin bukan diri Anda, tapi antar leader di group Anda. Tinggal bagaimana Anda menyelesaikannya.
Cobalah untuk bicara seorang diri [bukan rombongan, tidak menghakimi] dengan nada konstruktif, karena setiap kali Anda memperlakukan orang lain secara positif, Anda akan membawanya ke arah itu. Dan lihatlah, leader-leader dalam jaringan Anda akan mengikuti cara pintar Anda ini dalam menyelesaikannya ketika masalah tersebut menimpa jaringannya [duplikasi]. Dan ingat, jangan sekali-kali angkat bicara ketika Anda di puncak emosi. Lebih baik lahirkan penyelesaian dan bekerjalah kembali membangun network ini. Cobalah untuk membuka kembali lembaran cita-cita yang pernah Anda tulis dalam bisnis ini. Bukankah itu tujuan utama menjalani bisnis ini? Bukan untuk 'memusuhi' orang bukan?
Tetapi, kalau kemudian Anda menyadari ternyata 'hanya' Anda yang berselisih dengan dia. Dan apa saja yang ia lakukan selalu membuat Anda terganggu, semua posting email dia selalu ingin Anda respon negatif, dan hati Anda senang ketika dia dicemooh......., maka Andalah yang sebenarnya bermasalah, BUKAN dia.........
Dan kalau hal ini yang Anda alami, maka cobalah untuk menata hati Anda. Ada baiknya Anda 'off' seminggu dan temukan 'sesuatu' dalam diri Anda [karena memang benar-benar ada 'sesuatu']. Bersunyi-sunyilah dan TATA perasaan Anda.
----------------------------

MLM Sebagai Personal Franchise


Sering sekali terjadi kesimpang-siuran dan anggapan yang salah bahwa seorang distributor MLM diperah oleh perusahaan MLM dan upline-nya. Sebetulnya, seorang pegawai yang bekerja untuk perusahaan apapun harus menguntungkan perusahaannya (kalau tidak pasti dipecat). Berkaitan dengan anggapan yang salah di atas, saya ingin memberikan tambahan informasi. Sebenarnya, baik pegawai yang bekerja untuk perusahaan, maupun seorang distributor MLM sama-sama menguntungkan perusahaan yang menaungi. Walaupun demikian, distributor MLM bisa kaya, bebas waktu dan finansial karena ada di kuadran B (bisnis), sementara pegawai susah untuk kaya, bisa punya uang tapi sulit punya waktu, karena ada di kuadran E (employee).
Saya ingin membandingkan MLM dengan konsep yang jelas-jelas sudah diterima oleh masyarakat luas, yaitu Franchise, di mana franchise juga termasuk dalam kuadran B (bisnis). Jadi kuadran B memberi 3 cara untuk masuk : membuat sistem bisnis sendiri (perusahaan konvensional tipe C), membeli sistem bisnis yang sudah ada (franchise) dan membeli hak akses untuk masuk ke dalam sistem bisnis yang sudah teruji (MLM). MLM sendiri disebut oleh Robert Kiyosaki sebagai Personal Franchise, atau Waralaba Pribadi, yaitu franchise untuk level pribadi, bukan perusahaan.
Mari kita bandingkan MLM dan Franchise :
Satu, Di Franchise : kita awalnya membayar investasi awal untuk bergabung. Nilainya besar, karena level perusahaan (corporate).
Di MLM : kita awalnya membayar investasi awal untuk bergabung. Nilainya kecil, karena untuk level pribadi.
Dua, Di Franchise : kita bayar sendiri semua keperluan, mulai dari tempat, pegawai, transport, konsumsi produk sendiri, dll.
Di MLM : kita bayar sendiri semua keperluan, yaitu transport dan konsumsi produk sendiri. Karena levelnya pribadi, maka tidak perlu investasi tempat, pegawai, stock barang, karena sudah disediakan oleh perusahaan dan/atau stockist.
Tiga, Di Franchise : kita bayar (seringkali sudah include pada paket investasi awal) untuk belajar. Di McDonald's, dikenal Hamburger University. Kalau sudah lulus, baru boleh buka outlet. Jadi kita punya skill dasar dalam berbisnis.
Di MLM : training disediakan (biasanya gratis atau murah sekali) agar kita punya skill dasar dalam berbisnis.
Empat, Di Franchise : franchisee berbisnis menggunakan nama franchisor. Contoh: PT XXX boleh buka outlet McDonald's, tapi nama yang muncul tetap McDonald's, bukan PT XXX. PT XXX jadi perpanjangan tangan McDonald's.
Di MLM : kita berbisnis menggunakan nama MLM di mana kita bergabung, dan seakan-akan menjadi perpanjangan tangan MLM tersebut.
Lima, Di Franchise : Kalau kita besar, bisa disebut kita menguntungkan franchisor.
Di MLM : Kalau kita besar, kita disebut menguntungkan upline dan perusahaan.
Enam, Di Franchise : Pada awal pembukaan bisnis kita, kita didampingi oleh principal dari franchisor untuk memastikan segala sesuatunya benar.
Di MLM : Pada masa-masa awal kita berbisnis, kita didampingi oleh upline untuk memastikan segala sesuatunya benar.
Di MLM : kita memang ibarat membeli franchise.
Bedanya MLM dan Franchise :
Satu, Di Franchise : Bayar royalti tiap bulan untuk franchisor.
Di MLM : Tidak perlu bayar royalti. Upline sudah dapat bagiannya sendiri.
Dua, Di Franchise : Bisa beli hak franchise, tapi tidak bisa jual ke orang lain (1 level saja).
Di MLM : Bisa beli hak franchise, dan bisa menjualnya kepada orang lain (multi-level). Inilah asal kata MLM. Mengapa kok orang mau-maunya beli hak franchise yang nilainya begitu besar???
Satu, Salah satu cara masuk kuadran B (bisnis) yang memberikan kebebasan waktu dan finansial.
Dua, Kalau saya mau jual burger, nama McDonald's lebih punya daya jual daripada XXX Burger.
Tiga, Standarisasi dan duplikasi. Anak SMA pun bisa berhasil kalau diberikan sistem franchise kepadanya. Di perusahaan biasa, pewarisan bisnis bisa berakibat bangkrut.
Empat, Memberikan passive income.
Semoga informasi tambahan ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan sesama distributor MLM maupun rekan-rekan yang penasaran mengenai bisnis MLM. Terima kasih.
---------------------------


Network-Marketing : Hobby atau Bisnis?


Sudah berapa lama Anda bergabung sebagai distributor sebuah perusahaan network-marketing? Apakah Anda telah mencapai target yang Anda tentukan? Atau, hasil yang Anda peroleh di network-marketing masih belum sesuai dengan apa yang Anda harapkan. Apapun hasil yang telah Anda peroleh di network-marketing sampai saat ini, kemungkinan besar semuanya terkait dengan pendekatan Anda sendiri terhadap industri network-marketing. Intinya adalah : Apakah Anda memperlakukan network-marketing sebagai sebuah hobby? Atau, Anda memperlakukan network-marketing sebagai sebuah bisnis.
Banyak distributor network-marketing mengeluh bahwa mereka belum mencapai target yang mereka harapkan. Tapi, sebelum seorang distributor mengeluh tentang hasil yang belum sesuai dengan harapan, ada baiknya mereka merenungkan apakah mereka telah memperlakukan kegiatan network-marketing layaknya sebuah bisnis, ataukah sekedar sebagai hobby. Untuk mensukseskan network-marketing sebagai sebuah bisnis, banyak hal yang perlu dilakukan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :
Satu, Sebuah bisnis bisa sukses apabila ilmu yang terkait dengan bisnis tersebut telah dipelajari dan diterapkan dengan baik. Apakah Anda telah mempelajari dan mengimplementasikan cara-cara menjalankan bisnis network-marketing dengan benar dari leader / mentor Anda?
Dua, Sebuah bisnis bisa sukses bila didukung dengan modal yang cukup, baik modal keringat, maupun modal keuangan. Apakah Anda telah mengeluarkan modal keringat & modal keuangan yang cukup untuk bisnis network-marketing Anda? Apakah Anda mempergunakan produk (swakonsumsi) dan tutup point secara teratur setiap bulannya? Apakah Anda secara konsisten melakukan presentasi untuk merekrut distributor baru ke dalam jaringan network-marketing Anda?
Tiga, Sebuah bisnis bisa sukses bila didukung kegiatan marketing yang memadai. Apakah anda telah cukup melakukan kegiatan marketing untuk bisnis network-marketing Anda baik melalui iklan di koran, iklan di internet, selebaran dan sebagainya?
Empat, Sebuah bisnis bisa sukses apabila hal-hal diatas telah diimplementasikan secara disiplin dan konsisten selama kurun waktu tertentu. Untuk sukses di bisnis network-marketing, Anda perlu menerapkan hal-hal di atas secara disiplin dan konsisten setidak-tidaknya selama dua tahun. Apakah Anda telah menerapkan hal-hal di atas secara disiplin dan konsisten selama dua tahun?
Jika Anda belum mencapai target yang Anda harapkan dan belum memaksimalkan potensi penghasilan dari network-marketing, jangan-jangan, Anda hanya seorang hobbyist network-marketing, dan bukan seorang pebisnis network-marketing!!

----------------------

Pengetahuan Tanpa Pelaksanaan = Omong Kosong


Setiap kali saya menulis sebuah artikel yang kemudian saya upload di Networker-Indonesia.com, saya selalu berharap bahwa buah-pikiran ataupun informasi yang saya sampaikan tersebut dapat dipetik manfaatnya dan dipergunakan oleh para networker dan pelaku bisnis network-marketing dalam mengembangkan jaringan, bisnis dan income masing-masing.
Saya sering menerima email dari para member/user di Networker-Indonesia.com yang meminta izin untuk mengutip artikel-artikel yang ada sebagai bahan presentasi dalam mengembangkan bisnis. Terus terang, saya merasa senang sekali dapat memberikan bantuan, walaupun hanya sebatas melalui artikel yang saya muat di web, ataupun sebatas informasi melalui newsletter.
Saya memang berharap bahwa masyarakat pada umumnya, dan pelaku bisnis network-marketing secara khusus dapat mendapatkan pengetahuan, dan kemudian mengimplementasikan pengetahuan yang telah diperoleh tersebut secara konsisten dalam usaha untuk mencapai cita-cita KEBEBASAN FINANSIAL yang dicita-citakan.
Sangat penting untuk Anda ingat bahwa bekal pengetahuan saja tanpa pelaksanaan sama saja dengan omong kosong dalam usaha Anda untuk mencapai cita-cita kebebasan finansial.
Anda mungkin tahu bahwa dengan melakukan presentasi secara teratur dan konsisten baik secara one-on-one, melalui internet (website), ataupun melalui telepon akan dapat membantu meningkatkan pengembangan jaringan dan organisasi Anda. Tapi, jika pengetahuan tersebut tidak pernah Anda laksanakan, apakah jaringan network-marketing Anda akan berkembang dengan sendirinya?
Anda mungkin tahu bahwa dengan membiasakan diri untuk mengkonsumsi produk dari perusahaan MLM Anda, distributor-distributor dalam jaringan Anda akan lebih condong untuk mengikuti jejak langkah Anda. Tapi, jika pengetahuan tersebut tidak pernah Anda laksanakan, apakah omzet penjualan di jaringan network-marketig Anda akan meningkat dengan sendirinya?
Tanyalah diri sendiri apakah Anda telah mempraktekkan pengetahuan yang telah Anda miliki untuk mengembangkan bisnis network-marketing Anda? Jika Anda menjawab “BELUM”, mulailah mempraktekkan pengetahuan & ilmu yang Anda miliki sekarang juga supaya jarak Anda ke cita-cita kebebasan finansial semakin dekat.
Salam sukses untuk Anda.

-------------------------

Network-Marketing = Kolonialisasi?


Judul yang saya sajikan kali ini kedengarannya aneh. Seperti pada artikel-artikel saya sebelumnya, saya selalu mengatakan bahwa network-marketing merupakan bisnis yang mulia. Sampai saat ini pun saya masih memiliki keyakinan yang sama. Melalui network-marketing, semua orang tanpa memandang pengalaman, pendidikan dan latar belakang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kompensasi puncak.
Lalu apa hubungannya network-marketing dengan kolonialisasi? Begini, walau bisnis ini merupakan bisnis yang mulia, tetapi sering kali praktek di lapangan terjadi penyimpangan dari tujuannya yang mulia. Maksudnya adalah pada prinsipnya bisnis ini bertujuan untuk membantu orang supaya meningkat taraf kehidupannya, membantu mereka menjadi insan manusia yang merdeka dalam arti yang seluas-luasnya. Tetapi sering terjadi justru sebaliknya, banyak networker karena demi kepentingan pribadi berusaha mengungkung para mitranya sehingga menjadi manusia yang tidak merdeka.
Dalam perkembangan dunia yang berubah sedemikian cepat, sulit dihindari bahwa perkembangan dunia bisnis jaringan pun akan semakin marak. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang berdatangan tersebut ada yang bagus dan ada yang tidak bagus, bahkan ada pula yang berniat menipu.
Nah sikap apa yang harus kita ambil? Saya bisa memberikan suatu analogi cerita. Apabila saya membuka sebuah toko mainan, maka saya tidak bisa melarang orang lain untuk membuka toko mainan yang sama di sebelah toko saya. Dan saya juga tidak dapat melarang pelanggan saya untuk berbelanja ke sana. Lalu, apa yang mesti saya perbuat? Jawabannya adalah meningkatkan service dan memberikan harga yang kompetitif. Sehingga customer saya akan tetap loyal kepada saya.
Tentunya apabila saya bersikap negatif, misalnya menyebarkan fitnah atau melarang pelanggan saya untuk berbelanja ke toko sebelah, tentu saja mereka akan tertawa geli melihat sikap saya yang konyol ini.
Demikian juga dengan network-marketing. Dalam network-marketing, seorang leader yang dewasa akan memberikan kemerdekaan kepada para mitranya untuk memilih apa yang terbaik bagi mereka. Karena secara hukum mereka tidak memiliki kita demikian pula kita tidak memiliki mereka.
Yang wajib kita lakukan adalah, setiap ada mitra kita yang mencoba melirik bisnis yang lain, maka kita harus bersikap terbuka, pelajari bisnis baru tersebut dan berikanlah pandangan yang objektif.

Sampai jumpa di puncak sukses.

---------------------------------------------

Ilmu Statistik & Network Marketing


Dalam industri network-marketing, ilmu statistik memegang peranan penting. Pada dasarnya, bisnis network-marketing merupakan ilmu pasti dimana matematika dan statistik memainkan peranan penting. Berikut ini adalah dua contoh ilmu statistik yang memainkan peranan penting dalam bisnis network-marketing yang Anda jalankan.

  1. Hukum Rata-rata : Hukum Rata-rata (Law of Averages) merupakan hukum statistik yang paling mendasar. Saya yakin Anda pasti mengerti apa yang dimaksud oleh Hukum Rata-rata karena penerapan telah Anda alami sejak dari bangku sekolah dasar. Saat Anda duduk di bangku sekolah, bahkan sampai kuliah, Hukum Rata-rata selalu diterapkan dalam menganalisa prestasi belajar seorang siswa. Implementasi berupa nilai rata-rata di rapor semester dan juga di indeks prestasi kumulatif (IPK) pada saat Anda berada di perguruan tinggi. Di bidang bisnis, Hukum Rata-rata diterapkan di segala fase bisnis, mulai dari perhitungan kelayakan, marketing, sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Di network-marketing, semua kegiatan termasuk prospekting, menjual produk, keberhasilan opportunity meeting, dan sebagainya dapat dirangkum dan dianalisa dengan Hukum Rata-rata. Misalnya : jika Anda membutuhkan 100 kali presentasi untuk dapat merekrut 5 orang distributor baru, maka rasio keberhasilan rekruting Anda menurut Hukum Rata-rata adalah 5%. Jika Anda ingin merekrut 10 orang distributor baru, berarti Anda harus melakukan 200 kali presentasi. Dengan mengetahui rasio keberhasilan di setiap kegiatan bisnis network-marketing, Anda dapat meningkatkan rasio tersebut, baik melalui training, meningkatkan pengetahuan & teknik, melalui bimbingan dari uplina maupun mentor Anda, maupun dengan mempergunakan “tools” baru yang lebih efektif seperti VCD, kaset presentasi, maupun “tools-tools” lainnya.
  2. Hukum Pareto : Hukum Pareto menyatakan bahwa dalam setiap kegiatan (baik group bisnis maupun kegiatan lainnya), 20% anggota group akan memberikan kontribusi sebesar 80% dari hasil yang dicapai oleh group tersebut. Setiap leader di bisnis network-marketing akan membenarkan aplikasi Hukum Pareto ini. Artinya, 20% dari distributor dalam jaringan Anda akan memberikan kontribusi 80% terhadap bonus yang Anda terima dari jaringan network-marketing Anda. Hal yang sama juga berlaku dalam bisnis-bisnis lainnya. Seringkali, dalam sebuah perusahaan, 20% dari pelanggan akan memberikan kontribusi sebesar 80% dari omzet sebuah perusahaan.Saya berharap, dengan memahami peran statistik dalam bisnis network-marketing, Anda dapat meningkat tingkat keberhasilan dan kesuksesan bisnis network-marketing Anda.

High Tech? Atau Bu Tech?


Anda mungkin bingung dengan judul artikel di atas. Saya yakin Anda mengerti apa yang saya maksud dengan High Tech. Tapi, Bu Tech itu apa? Yang saya maksud dengan Bu Tech adalah “Buta Technology” atau sering disebut GapTek (Gagap Teknologi). Tapi apa pula hubungannya dengan bisnis network-marketing?
Artikel ini saya tulis untuk meng-informasikan tentang pentingnya memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menunjang perkembangan bisnis network-marketing Anda. Seperti yang telah Anda ketahui, industri network-marketing sendiri telah ada selama hampir 50 tahun. Tetapi apakah cara Anda menjalankan bisnis network-marketing Anda masih menggunakan metode 50 tahun yang lalu?
Selama 10 tahun terakhir, telah banyak sekali perkembangan teknologi yang dapat membantu perkembangan bisnis network-marketing Anda. Contohnya adalah sebagai berikut :
  1. Dulu, presentasi harus dilakukan melalui Business Opportunity Meeting, atau One-on-one, dimana seorang distributor harus berbicara sampai berbusa-busa. Sekarang, presentasi dapat dilakukan dengan meminjamkan kaset, VCD maupun melalui situs internet.
  2. Dulu, untuk mengirimkan brosur harus dilakukan melalui surat yang dikirim lewat kantor pos. Sekarang, mesin fax dapat dipergunakan untuk mengirimkan dokumen dan akan diterima dalam waktu singkat.
  3. Dulu, untuk berkomunikasi dengan distributor / downline harus lewat telpon SLJJ yang harganya mahal. Sekarang, komunikasi dengan distributor / downline dapat dilakukan lewat email, ataupun lewat telpon murah (VoIP) yang banyak ditawarkan melalui calling card. Pembicaraan SLJJ melalui VoIP harganya hampir 70% lebih murah dari telpon SLJJ biasa.
  4. Dulu, untuk melakukan training, support dan motivasi harus dilakukan melalui meeting. Sekarang, training, support dan motivasi dapat dilakukan melalui milis (misalnya milis di YAHOOGROUPS) maupun melalui situs internet (misalnya di NETWORKER-INDONESIA.COM ini).
  5. Dulu, untuk belanja produk harus mengunjungi stokist maupun kantor-pusat perusahaan network-marketing Anda. Sekarang, belanja produk dapat dilakukan melalui e-commerce website dan akan langsung dikirim ke alamat rumah Anda. Dengan demikian, Anda dapat menghemat waktu untuk mengembangkan jaringan distributor Anda tanpa harus melakukan perjalanan jauh hanya untuk membeli produk.
  6. Dan sebagainya.


Pertanyaannya adalah :
  1. Apakah Anda telah memanfaatkan perkembangan teknologi untuk perkembangan bisnis network-marketing Anda?
  2. Apakah perusahaan network-marketing tempat Anda bergabung menjadi distributor telah memanfaatkan perkembangan teknologi untuk bisnis mereka?

Jika Anda menjawab “Tidak” atau “Belum” untuk kedua pertanyaan di atas, segeralah hubungi saya untuk mengetahui cara-cara supaya Anda dapat memanfaatkan teknologi terbaru untuk membantu & mempermudah cara Anda dalam mengembangkan bisnis network-marketing Anda. 

Rahasia Sukses di Network-Marketing


Sudah merupakan hal yang lumrah jika orang (yang berakal sehat & waras) ingin sukses dalam bidang yang ditekuninya. Jika Anda adalah seorang praktisi pasar modal, tentu saja Anda ingin menjadi sukses di pasar modal. Jika Anda adalah seorang bankir, tentu saja Anda ingin menjadi sukses di industri perbankan. Jika Anda adalah seorang musisi, tentu saja Anda ingin menjadi sukses di dunia musik, dan seterusnya. Jadi, sangat wajar jika seorang network-marketer ingin sukses juga, bukan? Kalau begitu, apa saja “RAHASIA SUKSES” di bisnis network-marketing ini?
Rahasia Sukses No.1 : Berdasarkan pengamatan saya, rahasia sukses paling utama di bisnis network-marketing adalah : “Tingkat kesuksesan Anda berbanding lurus dengan usaha yang Anda tanamkan dalam bisnis network-marketing Anda.” Dengan kata lain, semakin tinggi usaha yang Anda tanamkan dalam bisnis network-marketing Anda, akan semaking tinggi juga bonus yang akan Anda terima.
Rahasia Sukses No.2 : Jadilah penjiplak ulung. Dalam bisnis network-marketing, Anda hanya perlu mencari tahu kegiatan-kegiatan apa saja yang telah dilakukan oleh orang-orang sukses lain dalam bisnis ini, dan tirulah apa yang mereka lakukan. Dalam industri network-marketing, upline Anda yang telah sukses sangat mengharapkan supaya Anda menjiplak apa yang telah mereka lakukan dalam mencapai sukses.
Rahasia Sukses No.3 : Bekerjalah secara tekun dan konsisten. Salah satu rahasia sukses yang paling sering ditelantarkan oleh seorang distributor network-marketing adalah konsistensi. Jalankanlah program yang telah diniatkan untuk bisnis network-marketing Anda secara konsisten. Jika Anda telah memiliki komitmen untuk melakukan 2 kali presentasi setiap minggu, janganlah mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Untuk sukses di network-marketing, Anda tidak dipaksa untuk melakukan 3 kali presentasi setiap hari. Tetapi jika Anda melakukan 2 kali presentasi secara tekun & konsisten selama beberapa tahun, Anda akan mencapai sukses.
Rahasia Sukses No.4 : Perlakukan network-marketing sebagai sebuah bisnis. Jika Anda memperlakukan network-marketing sebagai sebuah hobby, kemungkinan besar hasilnya tidak akan maksimal. Bagaimana caranya sebuah bisnis bisa sukses? Pembukuan harus rapi, penampilan harus rapi, kegiatan marketing harus dijalankan secara konsisten, promosi harus dilakukan supaya orang-orang mengetahui dan mengenal bisnis Anda.
Demikianlah 4 Rahasia Sukses yang jika diterapkan akan bermanfaat bagi perkembangan bisnis network-marketing Anda.

--------------------------------

Anda Gagal Merekrut? Inilah Penyebabnya!!!


Setiap orang yang bergabung dengan sebuah bisnis network-marketing pasti tahu bahwa kegiatan rekruting merupakan urat-nadi perkembangan sebuah jaringan network-marketing. Tanpa merekrut, jaringan bisnis Anda tidak akan berkembang sehingga mengakibatkan bonus yang Anda peroleh juga tidak meningkat. Sebagian besar distributor menganggap kegiatan rekruting sebagai salah satu kegiatan paling sulit dalam mengembangkan sebuah bisnis network-marketing.
Doug Firebaugh, seorang Top Leader industri network-marketing dari Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa kegagalan dalam melakukan rekruting timbul karena 5 alasan utama. Kelima alasan tersebut adalah :
  1. Distributor yang tidak berkomunikasi dengan prospek : Semua distributor tahu bahwa untuk merekrut, mereka harus sering memperkenalkan bisnis network-marketing yang mereka jalankan kepada teman dan relasi. Walaupun demikian, banyak sekali distributor yang tidak melakukannya. Mengapa?
Alasan utama adalah ”Rasa Takut”.
Cara yang tepat untuk mengatasi “Rasa Takut” adalah dengan meminta bimbingan dan training dari upline supaya perlahan-lahan “Rasa Takut” tersebut dapat dihilangkan.
  1. Distributor yang kurang berkomunikasi dengan prospek : Sering kali seorang distributor menetapkan target yang terlalu rendah dalam kegiatan prospekting. Seorang distributor dalam jaringan saya bertanya, “Saya sudah melakukan presentasi 2 kali seminggu selama 2 bulan, tapi belum juga ada yang bergabung dalam bisnis network-marketing saya. Saya rasa saya tidak cocok di bisnis ini.”

Jika Anda juga mengalami hal di atas, mungkin saja “ilmu merekrut” Anda masih belum cukup. Mungkin di bulan-bulan pertama Anda masih perlu melakukan 20 presentasi untuk merekrut satu distributor. Tetapi dengan latihan yang cukup dan bimbingan dari mentor dan upline Anda, kemungkinan besar “ilmu merekrut” Anda akan meningkat secara bertahap sehingga Anda dapat merekrut satu distributor baru setiap minggu.
  1. Distributor yang tidak berkomunikasi dengan prospek yang tepat : Seringkali distributor network-marketing menghabiskan terlalu banyak waktu dengan prospek yang tidak tepat. Yang dimaksud dengan prospek yang “tidak tepat” adalah orang-orang yang tidak berminat dan juga tidak cocok untuk menjalankan bisnis network-marketing. Contohnya adalah orang-orang yang suka mengeluh, orang-orang yang gampang menyerah, orang-orang yang tidak berminat untuk meningkatkan penghasilan dan taraf hidup keluarga-nya.
Kalau begitu, bagaimana tipe prospek yang tepat?
Tipe prospek yang tepat adalah orang-orang aktif yang berpikiran positif dan selalu berusaha supaya lebih sukses. Tipe orang-orang ini seringkali bergaul dengan orang-orang sukses lainnya yang selalu berpikiran positif dan berusaha supaya lebih maju.
Supaya Anda dapat merekrut orang-orang sukses, Anda juga harus mempraktekkan kebiasaan orang-orang sukses dengan cara belajar mengembangkan kepribadian melalui training-training yang sering diadakan oleh upline dalam organisasi maupun perusahaan network-marketing yang Anda jalankan.
  1. Distributor yang tidak berkomunikasi dengan benar ke prospek : Dalam kegiatan prospekting dan rekruting, kita harus mengutamakan kepentingan prospek. Kita harus sadar bahwa peluang bisnis yang kita tawarkan haruslah sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Jangan sampai kita memaksakan kehendak kepada seorang prospek / calon distributor. Jika kita terlalu memaksakan supaya prospek bergabung dengan bisnis network-marketing kita, bisa saja mereka setuju untuk bergabung dan membayar uang keanggotaan karena segan untuk menolak. Akan tetapi, jika mereka tidak mengembangkan bisnis mereka setelah bergabung secara resmi, maka perkembangan bisnis network-marketing Anda tetap akan terhambat.
  2. Distributor yang terlalu banyak bicara : Orang-orang tertentu memiliki kebiasaan untuk terlalu banyak bicara. Seharusnya kegiatan rekruting memiliki porsi presentasi dan tanya jawab yang seimbang. Artinya : kegiatan rekruting merupakan kegiatan dua-arah. Jangan mendominasi kegiatan rekruting dengan presentasi Anda. Supaya terjadi interaksi yang sehat, ada baiknya Anda menanyakan poin-poin tertentu kepada prospek / calon distributor, atau mereka diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Jika Anda mendominasi kegiatan rekruting dengan presentasi dari Anda yang bersifat se-arah, ada kemungkinan prospek / calon distributor menjadi antipati terhadap peluang bisnis yang Anda tawarkan.
Demikianlah 5 alasan utama yang mengakibatkan gagalnya kegiatan rekruting. Mudah-mudahan dengan mengetahui penyebab kegagalan rekruting tersebut, Anda dapat menghindarinya dan semakin sukses dalam mengembangkan bisnis network-marketing Anda.

---------------------------------

Help Other People


Seperti kata-kata Presiden John F. Kennedy : “Don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country.” Sering kali orang mengharapkan hasil tanpa usaha, padahal di mana pun, ini tidak mungkin terjadi. Lotre pun perlu investasi awal untuk bisa memenangkannya dan kesempatan Anda menang hanya sepersekian kemungkinan. Bisnis network-marketing yang kita jalankan adalah bisnis kita sendiri. Lakukanlah dengan sebaik mungkin, dan hasil akan mengikuti kita. Mustahil bisa mendapatkan hasil tanpa kerja keras. Dan biasanya, tanpa kerja keras, hasil yang didapat pun tidak membuat orang bisa bekerja lebih baik. Contoh, distributor baru yang dibuat bisa menerima bonus walaupun tidak bekerja, tidak akan bekerja lebih baik setelah menerima bonus tersebut.
Salah satu hal penting yang diperlukan di bisnis ini adalah sikap. Sikap inilah yang membedakan orang yang sukses dengan orang yang gagal. Salah satu sikap yang terpenting di bisnis ini adalah belajar. Belajar tidak akan pernah berakhir, dan inilah salah satu hakikat manusia untuk hidup.
Banyak sekali orang yang tidak mau belajar, tidak mau training, tetapi mengharapkan hasil yang besar. Mana mungkin!?!?!?
Pertama-tama, memang seorang distributor biasanya didampingi oleh upline-nya untuk membuka firstline-firstline baru. Setelah itu, bila masih tidak memiliki kemampuan untuk melakukan presentasi sendiri, maka siapa yang membantu firstline tersebut untuk berkembang juga? Upline hanya akan membantu 1-2 orang yang berkomitmen (digging deep), karena bagi upline, tetap adalah 1 kaki. Jadi, kita sendirilah yang harus membantu paling banyak pada downline kita.
Itu semua bisa dicapai bila kita mau belajar, sekaligus belajar inilah yang membantu kita untuk bisa mandiri di bisnis ini. Tentu saja, karena ini bisnis kita sendiri, tidak bisa selamanya bergantung pada upline terus.
Tidak pernah ada distributor yang tidak mandiri tetapi bisa berhasil di bisnis apa pun juga.


Salam sukses,

SUPERMAN Tidak Bisa Sukses di MLM


Apakah Anda seorang SUPERMAN? Kalau YA... saya mohon maaf telah membuat judul diatas, semoga saja peluang untuk Anda lain lagi. Network Marketing adalah suatu kegiatan bisnis yang pasti melibatkan network yang mejalankan fungsi marketing. Dalam hal ini tentu saja ada “pemimpin” yang membina, mengontrol dan mengembangkan organisani jaringan tersebut. Siapakah dia pemimpinnya?... idealnya tentu saja setiap pelaku Network Marketing itu.
Membina sebuah jaringan kerja memang gampang-gampang susah.. karena dalam jaringan itu terdapat banyak pribadi yang kemauan dan kemampuannya macam-macam. Perlu keterampilan secukupnya untuk berhasil membina jaringan.
Pelaku MLM yang merasa kemampuannya kurang bagus biasanya kurang PD (percaya diri) dalam berbisnis, sehingga bisnisnya tidak berjalan dengan bagus juga. Sebenarnya menurut saya masalahnya bukan pada ketidak mampuannya, tetapi masalahnya hanya karena ketidak-PD-annya itu sendiri. Bagaimana mungkin membuat orang lain percaya jika dia tidak percaya pada dirinya sendiri. PD aja lagi... karena sikap PD itu yang akan membuat orang lain bahkan yang lebih hebat mau bergabung dalam jaringan Anda.
Kebalikannya untuk orang yang merasa kemampuannya sangat bagus justru kadang-kadang tidak percaya pada orang lain, dia merasa bisa melakukan segalanya, dan tidak percaya kalau orang lain bisa melakukannya... ini yang saya katakan sebagai superman... dan saya berani perkirakan bahwa dia juga tidak akan sukses di bisnis MLM.
Mengapa demikian?
Seorang kenalan saya yang sudah cukup lama menjalankan bisnis MLM, mempunyai kemampuan yang luar biasa, presentasinya hebat, trainingnya memukau dan banyak kemampuan lain yang membuatnya super. Sayangnya kemampuannya itu tidak mudah di duplikasikan, dia merasa bahwa jaringannya tidak bisa melakukan sebaik yang bisa dia lakukan, semua hal dilakukan sendiri, sehingga jaringannya cenderung tergantung kepadanya, memang omsetnya bisa besar, tetapi setiap dia ke luar kota... ples... omset langsung turun. Lagipula besarnya omset juga mentok pada jumlah tertentu.
Perhatikan kata “secukupnya” yang saya tuliskan di atas. Kemampuan secukupnya ditambah sikap percaya diri justru mempunyai potensi sukses yang lebih besar. Seorang Network-Marketer harus mampu menduplikasikan apa yang dilakukannya kepada downlinenya, harus bisa mendelegasikan hal-hal yang harus dilakukan downlinenya. Dan hal ini memang membutuhkan waktu... percayalah dengan jaringan Anda pasti akan besar melebihi apa yang bisa Anda lakukan sendirian.
“The Death of Superman, the Rise of SuperTeam”

-------------------------------------