Beberapa waktu yang lalu,
saya menerima email yang dikirimkan oleh salah seorang teman pebisnis
network-marketing. Email tersebut berisi sebuah artikel yang menurut saya
sangat bermanfaat untuk meningkatkan sikap mental dalam menjalankan bisnis
network-marketing. Artikel tersebut telah banyak beredar sebagai email yang
dikirimkan secara berantai. Sayangnya, saya tidak mengetahui siapa penulis
artikel tersebut. Jika ada yang mengetahui sumber ataupun nama penulis artikel
tersebut, silahkan menghubungi saya supaya penghargaan yang sepantasnya dapat
diberikan kepada penulis artikel yang sangat bermutu ini. Semoga artikel di
bawah ini bermanfaat bagi teman-teman sekalian.
Hukum Pygmalion -
Hukum Berpikir Positif
Pygmalion adalah seorang
pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung.
Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan
ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang
yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
- Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi
Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek
ini."
- Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan
Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion
berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain
yang lebih perlu".
- Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak
mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang
mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah
pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk,
melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang
lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk
orang lain.
Pada
suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus.
Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak
seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok
menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu
cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu
sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para
dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion,
lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion,yaitu mengubah
patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan
isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama
Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang
positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang,
seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak
pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang
seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik
positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita
tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
- Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak
jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
- Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal
suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola
pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang
suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita
berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang
orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang
lain.
Kita
tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau
kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga
hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas
itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi
curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel,
"Ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti
itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak
bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif,kita akan menikmati hadiah itu
dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk,
ia ingat untuk memberi kepada kita."
Warna
hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai
Kalau
kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi
kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala
sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan
menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan
menjadikan hidup kita damai.
Hidup
akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik
tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang
keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak
berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan
menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan.
Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar